Milyaran Uang Petani Kecil Dihabiskankan Untuk Membayar Ketergantungan Terhadap Benih Unggul.

Bumi lancang kuning tempat bermukimnya etnis melayu disepanjang daerah aliran seperti sungai siak, sungai Kampar, hingga sungai Kuantan, hal ini membangun kekhasan yang diperlihatkan dari pola hidup masyarakat yang sangat dekat dengan dunia pertanian karena berada disebaran tanah alluvial, yang menyebabkan Masyarakat Melayu terbiasa dengan menanam tanaman secara tradisional (Tanam, tinggalkan, dan panen), kebiasaan yang terbangun ditengah Masyarakat Melayu ini menyebabkan masyarakat tidak terlalu memperhitungkan keuntungan dari bertani, melainkan orientasinya hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Kehidupan masyarakat di Bumi lancang kuning ini semakin bergeser, seiring dengan perkembangan teknologi di berbagai bidang, termasuk dibidang pertanian. Perkembangan teknologi pertanian menyebabkan terjadinya ekstensifikasi di berbagai pelosok daerah bumi lancang kuning ini, ekstensifikasi yang tidak didasari dengan sumberdaya manusia yang memadai menyebabkan terjadinya kerusakan lahan di Provinsi Riau yang total luas wilayahnya seluas 87.023,66 Km2, dari total luas wilayah ini hanya tersisa 433.114,5 Ha pada tahun 2016 yang belum dimanfaatkan (BPS, 2016).
Perkembangan teknologi pertanian tidak hanya berdampak terhadap ekstensifikasi lahan melainkan juga mendorong penggunaan benih unggul diberbagai subsektor dibidang pertanian, mulai dari tanaman pangan, hortikultura, hingga tanaman perkebunan. Peningkatan permintaan masyarakat terhadap bibit unggul ini dimanfaatkan oleh Perusahaan penyedia benih unggul dengan merakit berbagai varietas yang memiliki produksi yang tinggi dengan umur yang genjah, hasil rakitan varietas ini merupakan turunan kedua dari hasil persilangan, yang ketika petani menanam kembali biji hasil panen maka tanaman tidak akan menunjukkan pertumbuhan yang sama dengan ketika awal benih unggul tersebut dibeli.
Perusahaan penyedia benih unggul seperti halnya pengedar morvin yang menyebabkan ketergantungan petani terhadap ketersediaan bibit unggul, keadaan seperti ini terus dipelihara, agar petani selalu berada dalam lingkup usaha yang menyengsarakan diakibatkan oleh input usaha tani yang kian melonjak, yang tentunya akan semakin menekan keuntungan dari usaha tani tersebut. Hal ini juga mendorong petani untuk terus memperluas lahan agar meningkatkan pendapatan. Peningkatan jumlah lahan dapat kita lihat hingga tahun 2016 luas lahan sawah yang diolah adalah seluas 96.912,5 Ha, lahan kebun/tegal 490.248,9 Ha, lahan lading/huma 152.987,6 Ha, lahan perkebunan 3.621.207,5 Ha (BPS, 2016).
Kesengsaraan petani semakin kian menyiksa dengan adanya berbagai kredit yang harus mereka bayar, akibat dari pinjaman untuk memulai usaha tani tersebut, keadaan ini juga semakin diperparah dengan cuaca dan iklim yang tidak menentu sepanjang tahun. Ancaman gagal panen akibat banjir maupun kekeringan merupakan hal yang acapkali mereka hadapi akibat dari perluasan lahan yang mengurangi luasan hutan konservasi.
Akar permasalahan ini adalah karena tidak adanya sinergitas antara berbagai komponen yang berperan dalam rantai agribisnis dari hulu hingga hilir, kita lihat contonya pada 1 komoditas strategis saja yaitu cabe. Luas lahan tanaman cabe di provinsi Riau pada tahun 2016 adalah 2.954 Ha, dari luasan lahan ini mayoritas petani cabe menggunakan benih unggul yang dikeluarkan oleh Perusahaan penyedia benih unggul. Kebutuhan benih cabe perhektar minimal 80-100 gram/ha, kemudian 20 gram benih cabe keluaran perusahaan penyedia benih dibandrol dengan harga Rp.200.000,00 sehingga jika ditotal pengeluaran petani untuk membeli bibit perhektar mencapai Rp. 800.000,00. Jadi jika dikalikan dengan luasan lahan tanam cabe maka total pengeluaran petani untuk membeli benih unggul mencapai Rp. 2.363.200.000/musim tanam. Ini baru kita hitung 1 kali musim tanam sementara setahun untuk tanaman cabe bisa dilakukan minimal 2 kali dalam setahun, dan bayangkan kira-kira berapa Milyar uang petani yang dikeluarkan untuk berbagai komoditas lainnya.
Menanggapi hal ini pemerintah sudah mengambil langkah dengan memberikan subsidi pada beberapa komoditas pangan seperti padi, namun fokus pemerintah ini terkesan parsial dalam menyelesaikan permasalahan ketergantungan terhadap benih unggul, karena pada beberapa komoditas strategis lainnya seperti cabe, belum kita lihat adanya hal serupa, begitu juga untuk komoditas lainnya. Selain pemerintah peran akademisi juga perlu kita tinjau dalam upaya persiapan teknologi pengadaan benih unggul ini, para peneliti dari berbagai universitas telah mengembangkan berbagai metode perbanyakan tanaman, mulai dari yang sederhana hingga perbanyakan tanaman menggunakan teknologi canggih. Namun kita melihat antara kedua komponen penting ini tidak bersinergi dalam hal pengentasan ketergantungan terhadap benih unggul hasil rakitan perusahaan penyedia benih.
Sejatinya kesejahteraan Petani adalah wajah dari kemajuan bangsa ini, karena itu Pemerintah dalam cakupan luas mencakup Pemerintah Pusat, Provinsi, maupun Daerah perlu bersinergi terutama dengan kalangan akademisi yang menekuni bidang pertanian, Masing-masing stakeholder seharusnya menjalankan fungsinya secara professional, sehingga tercipta sistem usaha tani yang mensejahterakan petani, serta mengesampingkan kepentingan pribadi maupun golongan dalam mengambil keputusan terkait pengentasan masalah ketergantungan terhadap benih unggul ini.
Penyediaan benih unggul ini jika ditinjau dari sudut pandang agronomi dapat dilakukan dengan 2 alternatif umum yaitu perbanyakan secara generatif maupun secara vegetatif, dan jika ditinjau dari sisi teknologinya perbanyakan tanaman itu dapat dilakukan dengan teknik sederhana seperti menanam biji, stek, okulasi, cangkok, namun perbanyakan menggunakan teknik sederhana ini tidak mampu memenuhi kebutuhan benih dalam jumlah yang banyak dan dengan waktu yang singkat, sementara itu ada teknologi perbanyakan tanaman yang mampu menjawab keterbatasan teknik perbanyakan sederhana itu yaitu menggunakan teknologi kultur jaringan.
Kultur jaringan tanaman merupakan teknik perbanyakan tanaman yang mampu menumbuhkan setiap sel tanaman, sehingga dapat dihasilkan jutaan bibit dengan waktu yang singkat, serta benih yang diperbanyak menggunakan teknik ini memiliki kesamaan sifat secara genetik dengan induknya, sehingga tidak perlu lagi melakukan persilangan untuk mendapatkan benih, namun kelemahan dari teknologi ini adalah investasi untuk mendirikan laboratorium terbilang besar, namun hal ini bukanlah batasan yang membatasi kita untuk menggunakan teknologi ini, karena telah dipelajari berbagai teknik kultur jaringan sederhana yang dapat mensubstitusi alat-alat yang mahal dengan alat-alat yang sederhana.
Peranan pemerintah seharusnya terfokus pada teknologi yang mampu menjawab tuntutan dalam penyediaan bibit unggul ini, sebagai solusi strategis melepaskan Petani dari ketergantungan terhadap benih unggul yang disediakan oleh Perusahaan penyedia benih, Pemerintah bisa memberdayakan berbagai dinas terkait dalam mengembangkan teknologi kultur jaringan ini ditingkat daerah, sehingga ditiap daerah memiliki laboratorium yang dapat memproduksi jutaan bibit yang bisa lansung didistribusikan kepada petani, selain itu laboratorium ini juga dapat dijadikan sebagai pusat kajian spesifik lahan-lahan pertanian setempat.
Sementara itu para akademisi selain dituntut melakukan pembaharuan-pembaharuan dalam bidang pertanian, juga dituntut mampu memberikan pengabdian kepada masyarakat dalam upaya peningkatan produktifitas berbagai komoditi, Mereka para akademisi dituntut mampu mentransfer teknologi kepada masyarakat, sehingga terciptalah ekosistem usaha tani yang berkelanjutan.

Pebra Heriansyah, SP, MP

Dosen Fakultas Pertanian

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *